Jumat, 06 Juli 2012

asuhan sistem pencernaan

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang
Agar makanan yang kita makan dapat di serap di usus halus, maka makanan itu harus di ubah menjadi bentuk sederhana melalui proses pencernaan, zat makanan yang mengalami proses pencernaan di dalamtubuh adalah karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan unsur-unsur mineral, vitamin, dan air tidak mengalami proses pencernaan. Proses pencernaanpada manusia dapat di bedakan menjadi dua macam yaitu proses pencernaan secara mekanik dan kimiawi (enzimatis). Saat kalian mengunyah makanan seperti nasi, roti, umbi dan pisang berarti proses pencernaan mekanik (fisik) sedang berlangsung.Dan, proses pencernaan mekanik adalah proses perubahan makanan dari bentuk besar atau kasar menjadi bentuk kecil atau halus. Pada manusia dan mamalia umumnya proses pencernaan mekanik dilakukan dengan menggunakan gigi. Berarti, proses pencernaan kimiawi pun sedang terjadi. Dan proses pencernaan kimiawi adalah proses perubahan makanan dari zat yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana dengan menggunakan enzim.
Enzim adalah zat kimia yang diproduksi oleh tubuh yang berfungsi mempercepat reaksi-reaksi kimia dalam tubuh. Proses pencernaan makanan pada manusia melibatkan alat-alat pencernaan makanan yang kita makan. Alat pencernaan makanan dapat di bedakan atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan manusia memanjang dari mulut sampai anus, terdiri dari mulut (kaum olis), kerongkongan (esofagus), lambung (ventlikulus), usus halus (intestinum), usus besar (kolon), dan anus. Kelenjar pencernaan memproduksi enzim-enzim yang membantu proses pencernaan kimiawi.Kelenjar air liur, kelenjar getah lambung, hati (hepar), dan pankreas.

Penyakit diare hingga saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Padahal berbagai upaya penanganan, baik secara medik maupun upaya perubahan tingkah laku dengan melakukan pendidikan kesehatan terus dilakukan. Namun upaya-upaya tersebut belum memberikan hasil yang menggembirakan. Setiap tahun penyakit ini masih menduduki peringkat atas, khususnya di daerah-daerah miskin.
Uniknya, jumlah penderita diare yang datang ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) jauh lebih sedikit dibanding jumlah penderita sebenarnya. Mereka yang memeriksakan diri ke Puskemas didata hanya 25 dari per 1.000 penduduk. Namun berdasarkan survei yang dilakukan Depkes (Departemen Kesehatan) melalui survei kesehatan rumah tangga, ternyata penderita diare berjumlah 300 per 1.000 penduduk (Suharyono, 2001).
Diare menyerang siapa saja tanpa kenal usia. Diare yang disertai gejala buang air terus-menerus, muntah dan kejang perut kerap dianggap bisa sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pertolongan medis.
Upaya untuk meningkatkan kondisi gizi masyarakat telah dilaksanakan melalui berbagai program perbaikan gizi oleh Departemen Kesehatan bekerja sama dengan masyarakat. Menurut survai Kesehatan tahun 1986 angka kejadian gizi buruk pada anak balita 1,72% dan gizi kurang sebanyak 11,4. Berbeda dengan survai di lapangan, insiden gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita yang dirawat mondok di rumah sakit masih tinggi.Rani di RSU Dr. Pirngadi Medan mendapat 935 (38%) penderita malnutrisi dari 2453 anak balita yang dirawat. Mereka terdiri dari 67% gizi kurang dan 33% gizi buruk. Penderita gizi buruk yang paling banyak ditemukan adalah tipe marasmus. Arif di RS. Dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan Barus di RS Dr. Pirngadi Medan sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk dan higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangun dan serta terjadinya krisis ekonomi di ludonesia.

B.    Tujuan
1.    tujuan umum 
Memberi gambaran tentang askep pada sistem pencernaan
2.    Tujuan Khusus
b.    Menjelaskan tentang askep diare pada anak dengan diare
c.    Menjelaskan tentang askep pada anak dengan kkp















BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN DIARE DAN KKP


A.    Asuhan keperawatan pada anak dengan diare
1.    Pengertian diare
Diare menurut definisi Hippocrates adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat), konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau cair. (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 1998). Menurut WHO (1980) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih dari tiga kali sehari. Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997).
Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi (Underwood, 2000).
2.    Klasifikasi Diare
Klasifikasi diare berdasarkan lama waktu diare terdiri dari diare akut, diare persisten dan diare kronis (Asnil et al, 2003).
a.    Diare Akut
Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, berlangsung kurang dari 14 hari, dengan pengeluaran tinja lunak atau cair yang dapat atau tanpa disertai lendir dan darah



b.    Diare Persisten
Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik

c.    Diare kronis
Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. Lama diare kronik lebih dari 30 hari.

3.    Etiologi
Diare akut disebabkan oleh banyak faktor antara lain infeksi, makanan, efek obat, imunodefisiensi dan keadaan-keadaan tertentu. (Mansjoer et al, 2000, Asnil et al, 2003).
1.    Infeksi
Infeksi terdiri dari infeksi enteral dan parenteral. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan dan infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan.
2.    Makanan
Diare dapat disebabkan oleh intoksikasi makanan, makanan pedas, makanan yang mengandung bakteri atau toksin. Alergi terhadap makanan tertentu seperti susu sapi, terjadi malabsorbsi karbohidrat, disakarida, lemak, protein, vitamin dan mineral.
3.    Terapi obat
Obat-obat yang dapat menyebabkan diare diantaranya antibiotik, antacid


4.    Epidemiologi
Penyakit diare akut lebih sering terjadi pada balita dari pada anak yang lebih besar. Kejadian diare akut pada anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Penyakit ini ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar atau kontak langsung dengan tinja penderita (Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1999).

5.    Patofisiologi
Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisiologi berikut, yakni gangguan osmotik dan gangguan sekretorik. (Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 1998, Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman, 1999 ).
1.    Gangguan osmotic
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilewati air dan elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara isi usus dengan cairan ekstraseluler. Diare terjadi jika bahan yang secara osmotik aktif dan sulit diserap. Bahan tersebut berupa larutan isotonik dan hipertonik. Larutan isotonik, air dan bahan yang larut di dalamnya akan lewat tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare.
2.    Gangguan sekretorik
Akibat rangsangan mediator abnormal misalnya enterotoksin, menyebabkan vili gagal mengabsorbsi natrium, sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat. Hal ini menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus mengeluarkannya sehingga timbul diare pula (Underwood, 2000).


6.    Manifestasi klinis
Mula-mula anak balita menjadi cengeng, gelisah, suhu badan meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena tercampur empedu, karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi asam akibat banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan atau sesudah diare. (Ngastiyah, 1997, Mansjoer et al, 2000, Asnil et al, 2003). Anak-anak yang tidak mendapatkan perawatan yang baik selama diare akan jatuh pada keadaan-keadaan seperti dehidrasi, gangguan keseimbangan asam-basa, hipoglikemia, gangguan gizi, gangguan sirkulasi (Asnil et al, 2003).
Tabel 1 derajat dehidrasi berdasarkan kehilangan berat badan
Derajat dehidrasi    Penurunan berat badan (%)
Tidak dehidrasi    < 2 ½
Dehidrasi ringan    2 ½ - 5
Dehidrasi sedang    5-10
Dehidrasi berat    10
(Buku ajar diare, 1999)
7.    Penatalaksanaan
Menurut Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Prinsip penatalaksanaan diare akut antara lain dengan rehidrasi, nutrisi, medikamentosa (Andrianto, 1995).
1.    Rehidrasi
Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya. Jumlah cairan yang diberi harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan atau muntah, ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin, pernapasan dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung. Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak atau golongan umur.
2.    Nutrisi
Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi. Agar pemberian diet pada anak dengan diare akut dapat memenuhi tujuannya, serta memperhatikan faktor yang mempengaruhi keadaan gizi anak, maka diperlukan persyaratan diet sebagai berikut yakni, pasien segera diberikan makanan oral setelah rehidrasi yakni 24 jam pertama, makanan cukup energi dan protein, makanan tidak merangsang, makanan diberikan bertahap mulai dengan yang mudah dicerna, makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering. Pemberian ASI diutamakan pada bayi, pemberian cairan dan elektolit sesuai kebutuhan, pemberian vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup. Khusus untuk penderita diare karena malabsorbsi diberikan makanan sesuai dengan penyebabnya, antara lain : Malabsorbsi lemak berikan trigliserida rantai menengah, Intoleransi laktosa berikan makanan rendah atau bebas laktosa, Panmalabsorbsi berikan makanan rendah laktosa, parenteral nutrisi dapat dimulai apabila ternyata dalam 5-7 hari masukan nutrisi tidak optimal (Suandi, 1999)
3.    Medikamentosa
Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin. Obat-obat anti diare meliputi antimotilitas seperti loperamid, difenoksilat, kodein, opium, adsorben seperti Norit, kaolin, attapulgit. Anti muntah termasuk prometazin dan klorpromazin
Berdasarkan derajat dehidrasi maka terapi pada penderita diare dibagi
menjadi tiga, yakni rencana pengobatan A, B dan C.
a.    Rencana pengobatan A
Digunakan untuk mengatasi diare tanpa dehidrasi, meneruskan terapi diare di rumah, memberikan terapi awal bila anak terkena diare lagi. Cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti oralit, makanan cair (sup, air tajin), air matang. Gunakan larutan oralit untuk anak seperti dijelaskan dalam tabel berikut :
Tabel 2. Kebutuhan oralit per kelompok umur
Umur    Jumlah oralit yang diberikan tiap BAB    Jumlah oralit yang disediakan di rumah
< 12 bulan    50-100 ml    400 ml/hari ( 2 bungkus)
1-4 tahun    100-200 ml    600-800 ml/hari ( 3-4 bungkus)
> 5 tahun    200-300 ml    800-1000 ml/hari (4-5 bungkus)
(Buku ajar diare, 1999)
b.    Rencana pengobatan B
Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi ringan dan sedang, dengan cara; dalam 3 jam pertama, berikan 75 ml/KgBB. Berat badan anak tidak diketahui, berikan oralit paling sedikit sesuai tabel berikut:


Tabel 3. Jumlah oralit yang diberikan pada 3 jam pertama
Umur    < 1 tahun    1-5 tahun    > 5 tahun
Jumlah oralit    300 ml    600 ml    1200 ml
(Buku ajar diare, 1999)
Berikan anak yang menginginkan lebih banyak oralit, dorong juga ibu untuk meneruskan ASI. Bayi kurang dari 6 bulan yang tidak mendapatkan ASI, berikan juga 100-200 ml air masak. Setelah 3-4 jam, nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian, kemudian pilih rencana A, B atau C untuk melanjutkan pengobatan
c.    Rencana pengobatan C
Digunakan untuk mengatasi diare dengan derajat dehidrasi berat. Pertama-tama berikan cairan intravena, nilai setelah 3 jam. Jika keadaan anak sudah cukup baik maka berikan oralit. Setelah 1-3 jam berikutnya nilai ulang anak dan pilihlah rencana pengobatan yang sesuai.
8.    Konsep Keperawatan
1.    Pengkajian (pada Anak Usia 3 Tahun)
a.    Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer
b.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya anak masuk Rumah Sakit dengan keluhan buang air cair berkali-kali baik disertai atau tanpa dengan muntah, tinja dpat bercampur lendir dan atau darah, keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran
c.    Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi pengkajian riwayat :
1.    Prenatal
Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur, post matur), abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat yang dimakan serta imunisasi.
2.    Natal
Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang menolong persalinan, penyulit persalinan.
3.    Post natal
Berat badan nomal 2,5 Kg – 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi kesehatan baik, apgar score , ada atau tidak ada kelainan kongenital.
4.    Feeding
Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya, pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan, peubahan berat-badan, masalah-masalah feeding (vomiting, colic, diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau suplemen lain.
5.    Penyakit sebelumnya
Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi, insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat inap sebelumnya
6.    Alergi
Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang, tumbuh-tumbuhan, debu rumah
7.    Obat-obat terakhir yang didapat
Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian.
8.    Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan reaksinya.
9.    Tumbuh Kembang
Berat waktu lahir 2, 5 Kg – 4 Kg. Berat badan bertambah 150 – 200 gr/minggu, TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.
d.    Riwayat Psikososial
Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun (toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.
e.    Riwayat Spiritual
Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.
f.    Reaksi Hospitalisasi
1.    Kecemasan akan perpisahan : kehilangan interaksi dari keluarga dan lingkungan yang dikenal, perasaan tidak aman, cemas dan sedih
2.    Perubahan pola kegiatan rutin
3.    Terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi
4.    Kehilangan otonomi
5.    Takut keutuhan tubuh
6.     Penurunan mobilitas seperti kesempatan untuk mempelajari dunianya dan terbatasnya kesempatan untuk melaksanakan kesenangannya
g.    Aktivitas Sehari-Hari
1.    Kebutuhan cairan pada usia 3 tahun adalah 110-120 ml/kg/hari
2.    Output cairan :
a.    IWL (Insensible Water Loss)
1)    Anak : 30 cc / Kg BB / 24 jam
2)    Suhu tubuh meningkat : 10 cc / Kg BB + 200 cc (suhu tubuh – 36,8 oC)
b.    SWL (Sensible Water Loss) adalah hilangnya cairan yang dapat diamati, misalnya berupa kencing dan faeces. Yaitu :
(1)    Urine : 1 – 2 cc / Kg BB / 24 jam
(2)    Faeces : 100 – 200 cc / 24 jam
(3)    Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.
h.    Pemeriksaan Fisik
1.    Tanda-tanda vital
Suhu badan : mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun
2.    Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala, lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan berat badan.
3.    Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi nafas tambahan.
4.    Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
5.    Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer
6.    Perkemihan
Volume diuresis menurun.
i.    Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.
j.    Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
k.    Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
l.    Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
m.    Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.
n.    Neorologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.
B.    Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
1.    Motorik Kasar
Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai bisa bersepeda roda tiga.
2.    Motorik Halus
Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi
3.    Personal Sosial
Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.
4.    Diagnosa Keperawatan
a.    Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual).
b.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
c.    Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
5.    Rencana Keperawatan
Dx.1  Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah serta intake terbatas (mual)
Tujuan   :    Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi   


Intervensi    Rasional
Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasiPantau intake dan output.    Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.
 Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium    Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif    Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui
Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
Tujuan   :  Kebutuhan nutrisi  terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan bera badan
Intervensi    Rasional
Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.    Menurunkan kebutuhan metabolik
Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan    Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien memungkinkan.
Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet    Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi    Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan nutrisi lebih lanjut
Dx.3  : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
Tujuan :     Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal
Intervensi    Rasional
Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.    Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri
Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase punggung dan kompres hangat abdomen    Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping
Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan perawatan kulit    Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi
Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi    Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis
Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik nyeri, petunjuk verbal dan non verbal    Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya

6.    Implementasi
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah direncanakan sebelumnya
7.    Evaluasi
Evaluasi merupakan pengukuran keberhasilan sejauhmana tujuan tersebut tercapai. Bila ada yang belum tercapai maka dilakukan pengkajian ulang, kemudian disusun rencana, kemudian dilaksanakan dalam implementasi keperawatan lalau dievaluasi, bila dalam evaluasi belum teratasi maka dilakukan langkah awal lagi dan seterusnya sampai tujuan tercapai.
B.    Asuhan keperawatan pada anak kekurangan kalori protein (kkp)
1.    Pengertian
Kekurangan kalori protein adalah defisiensi gizi terjadi pada anak yang kurang mendapat masukan makanan yang cukup bergizi, atau asupan kalori dan protein kurang dalam waktu yang cukup lama (Ngastiyah, 1997). Kurang kalori protein (KKP) adalah suatu penyakit gangguan gizi yang dikarenakan adanya defisiensi kalori dan protein dengan tekanan yang bervariasi pada defisiensi protein maupun energi (Sediatoema, 1999).
2.    Etiologi KKP
Etiologi malnutrisi dapat primer, yaitu apabila kebutuhan individu yang sehat akan protein, kalori atau keduanya, tidak dipenuhi oleh makanan yang adekuat, atau sekunder, akibat adanya penyakit yang menyebabkan asupan suboptimal, gangguan penyerapan dan pemakaian nutrien, dan/atau peningkatan kebutuhan karena terjadinya hilangnya nutrien atau keadaan stres. Kekurangan kalori protein merupakan penyakit energi terpenting di negara yang sedang berkembang dan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas pada masa kanak – kanak diseluruh dunia. (Rudolph, 2006)
Penyebab langsung dari KKP adalah defisiensi kalori protein dengan berbagai tekanan, sehingga terjadi spektrum gejala-gejala dengan berbagai nuansa dan melahirkan klasifikasi klinik (kwashiorkor, marasmus, marasmus kwashiorkor).Penyebab tak langsung dari KKP sangat banyak sehingga penyakit ini disebut sebagai penyakit dengan multifactoral. Berikut ini merupakan sistem holistik penyebab multifactoral menuju ke arah terjadinya KKP.
a.    Ekonomi negara rendah
b.    Pendidikan umum kurang
c.    Produksi bahan pangan rendah
d.    Hygiene rendah
e.    Pekerjaan rendah
f.    Pasca panen kurang baik
g.    Sistem perdagangan dan distribusi tidak lancar
h.    Persediaan pangan kurang
i.    Penyakit infeksi dan investasi cacing
j.    Konsumsi kurang
k.    Absorpsi terganggu
l.    Utilisasi terganggu
m.    K K P
n.    Pengetahuan gizi kurang
o.    Anak terlalu banyak
3.    Manifestasi klinik
a.    KKP Ringan
•    Pertumbuhan linear terganggu.
•    Peningkatan berat badan berkurang, terhenti, bahkan turun.
•    Ukuran lingkar lengan atas menurun.
•    Maturasi tulang terlambat.
•    Ratio berat terhadap tinggi normal atau cenderung menurun.
•    Anemia ringan atau pucat.
•    Aktifitas berkurang.
•    Kelainan kulit (kering, kusam).
•    Rambut kemerahan.
b.    KKP Berat
•    Gangguan pertumbuhan.
•    Mudah sakit.
•    Kurang cerdas.
•    Jika berkelanjutan menimbulkan kematian
4.    Komplikasi
a.    Defisiensi vitamin A (xerophtalmia) Vitamin A berfungsi pada penglihatan (membantu regenerasi visual purple bila mata terkena cahaya). Jika tidak segera teratasi ini akan berlanjut menjadi keratomalasia (menjadi buta).
b.    Defisiensi Vitamin B1 (tiamin) disebut Atiaminosis. Tiamin berfungsi sebagai ko-enzim dalam metabolisme karbohidrat. Defisiensi vitamin B1 menyebabkan penyakit beri-beri dan mengakibatkan kelainan saraf, mental dan jantung.
c.    Defisiensi Vitamin B2 (Ariboflavinosis) Vitamin B2/riboflavin berfungsi sebagai ko-enzim pernapasan. Kekurangan vitamin B2 menyebabkan stomatitis angularis (retak-retak pada sudut mulut, glositis, kelainan kulit dan mata.
d.    Defisiensi vitamin B6 yang berperan dalam fungsi saraf.
e.    Defisiensi Vitamin B12 Dianggap sebagai faktor anti anemia dalam faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan anemia pernisiosa.
f.    Defisit Asam Folat Menyebabkan timbulnya anemia makrositik, megaloblastik, granulositopenia, trombositopenia.
g.    Defisiensi Vitamin C Menyebabkan skorbut (scurvy), mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan untuk pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblas karena merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel, pada proses pematangan eritrosit, pembentukan tulang dan dentin.
h.    Defisiensi Mineral seperti Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium Kekurangan yodium dapat menyebabkan gondok (goiter) yang dapat merugikan tumbuh kembang anak.
i.    Tuberkulosis paru dan bronkopneumonia.
j.    Noma sebagai komplikasi pada KEP berat Noma atau stomatitis merupakan pembusukan mukosa mulut yang bersifat progresif sehingga dapat menembus pipi, bibir dan dagu. Noma terjadi bila daya tahan tubuh sedang menurun. Bau busuk yang khas merupakan tanda khas pada gejala ini
5.    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kurang kalori protein (Suriand & Rita Yuliani, 2001)
a.    Diit tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin
b.    Pemberian terapi cairan dan elektrolit
c.    Penannganan diare bila ada : cairan, antidiare, dan antibiotic
Penatalaksanan KKP berat dirawat inap dengan pengobatan rutin (Arief Mansjoer, 2000)
1.    Atasi atau cegah hipoglikemi
Periksa kadar gula darah bila ada hipotermi (suhu skala < 35 derajat celciul suhu rektal 35,5 derajat celcius). Pemberian makanan yang lebih sering penting untuk mencegahkedua kondisi tersebut. Bila kadar gula darah di bawah 50 mg/dl, berikan :
•    50 mlbolus glukosa 10 % atau larutan sukrosa 10% (1 sdt gula dalam 5 adm air) secara oral atau sonde / pipa nasogastrik
•    Selanjutnya berikan lanjutan tersebut setiap 30 menit selama 2 jam (setiap kali berikan ¼ bagian dari jatah untuk 2 jam)
•    Berikan antibiotik d. Secepatnya berikan makanan setiap 2 jam, siang dan malam
2.    Atasi atau cegah hipotermi Bila suhu rektal < 35.5 derajat celcius :
•    Segera berikan makanan cair / formula khusus (mulai dengan rehidrasi bila perlu)
•    Hangatkan anak dengan pakaian atau seelimut sampai menutup kepala, letakkan dekat lampu atau pemanas (jangan gunakan botol air panas) atau peluk anak di dasa ibu, selimuti.
•    Berikan antibiotik
•    Suhu diperiksa sampai mencapai > 36,5 derajat celcius
3.    Atasi atau cegah dehidrasi
Jangan mengunakan jalur intravena untuk rehidrasi kecuali keadaan syok/rentan. Lakukan pemberian infus dengan hati – hati, tetesan pelan – pelan untuk menghindari beban sirkulasi dan jantung. Gunakan larutan garam khusus yaitu resomal (rehydration Solution for malnutrition atau pengantinya). Anggap semua anak KKP berat dengan diare encer mengalami dehidrasi sehingga harus diberikan :
•    Cairal Resomal/pengantinya sebanyak 5ml/kgBB setiap 30 menit selama 2 jam secara oral atau lewat pipa nasogastrik
•    Selanjutnya beri 5 -10 ml/kgBB/jam selama 4-10 jam berikutnya ; jumlah yang tepat harus diberikan tergantung berapa baanyak anak menginginkannntya dan banyaknya kehilangan cairan melalui tinja dan muntah.
•    Ganti Resomal/penganti pada jam ke-6 dan ke-10 dengan formulas khusus sejumlah yang sama, bila keadaan rehidrasi menetap/stabil.
•    Selanjutnya mulai beri formula khusus.
4.    Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
Pada senua KKP berat terjadi kelebihan natrium tubuh, walaupun kadar Na plasma rendah. Defisiensi kalium (K) dan magnesium (Mg)msering terjadi dan paling sedikit perlu 2 minggu untuk pemulihan. Ketidakseimbangan ini ikut andil pada terjadinya edema (jangan obati dengan pemberian diuretik). Berikan:
•    Tambahkan K2-4 mEq/kgBB/hari (=150-300mg KCL/kgBB/hari)
•    Tambahkan Mg 0,3-0,6 mEq/kgBB/hari (=7,5-15mgKCL/kgBB/hari)
•    Siapkan makanan tanpa beri garam
Tambahkan K dan Mg dapat disiapkan dalam bentuk cairan dan tambahkan langsung pada makanan. Penambahan 20ml larutan pada 1 liter formula. Selain itu atasi penyakit penyerta, yaitu :
a.    Defisiensi vitamin A, seperti korelasi defisiensi mikro
b.    Dermatosis
Umum defisiensi Zn terdapat pada keadaan ini dan dermatosis membaik dengan pemberian suplementasi Zn, selain itu :
•    Kompres bagian kulit yang terkena dengan KmnO (K-permanganat) 1% selam 10 menit.
•    Beri salep (Zn dengan minyak kastor)
•    Jaga daerah perineum agar tetap kering
c.    Parasit/cacing, beri mebendazol 100 mg oral, 2 kali sehari selama 3 hari.
d.    Diare melanjut
Diare biasa menyertai dan berkurang dengan sendirinya pada pemberian makanan secara berhati – hati. Bila ada intoleransi laktosa (jarang) obati hanya bila diare berlanjutnya diare. Bila mungkin lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik, berikan metronidazol 7,5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari.
5.    Asuhan Keperawatan
1.    Pengkajian
a.    Pemeriksaan Fisik
1)    Kaji tanda-tanda vital.
2)    Kaji perubahan status mental anak, apakah anak nampak cengeng atau apatis.
3)    Pengamatan timbulnya gangguan gastrointestinal, untuk menentukan kerusakan fungsi hati, pankreas dan usus.
4)    Menilai secara berkelanjutan adanya perubahan warna rambut dan keelastisan kulit dan membran mukosa.
5)    Pengamatan pada output urine.
6)    Penilaian keperawatan secara berkelanjutan pada proses perkembangan anak.
7)    Kaji perubahan pola eliminasi. Gejala : diare, perubahan frekuensi BAB. Tanda : lemas, konsistensi BAB cair.
8)    Kaji secara berkelanjutan asupan makanan tiap hari. Gejala : mual, muntahdan tanda : penurunan berat badan.
9)    Pengkajian pergerakan anggota gerak/aktivitas anak dengan mengamati tingkah laku anak melalui rangsang.


b.    Pemeriksaan Penunjang
1.    Pemeriksaan Laboratorium
a.    pemeriksaan darah tepi memperlihatkan anemia ringan sampai sedang, umumnya berupa anemia hipokronik atau normokromik.
b.    Pada uji faal hati tampak nilai albumin sedikit atau amat rendah, trigliserida normal, dan kolesterol normal atau merendah.
c.    Kadar elektrolit K rendah, kadar Na, Zn dan Cu bisa normal atau menurun.
d.    Kadar gula darah umumnya rendah.
e.    Asam lemak bebas normal atau meninggi.
f.    Nilai beta lipoprotein tidak menentu, dapat merendah atau meninggi.
g.    Kadar hormon insulin menurun, tetapi hormon pertumbuhan dapat normal, merendah maupun meninggi.
h.    Analisis asam amino dalam urine menunjukkan kadar 3-metil histidin meningkat dan indeks hidroksiprolin menurun.
i.    Pada biopsi hati hanya tampak perlemakan yang ringan, jarang dijumpai dengan kasus perlemakan berat.
j.    Kadar imunoglobulin serum normal, bahkan dapat meningkat.
k.    Kadar imunoglobulin A sekretori rendah.
l.    Penurunan kadar berbagai enzim dalam serum seperti amilase, esterase, kolin esterase, transaminase dan fosfatase alkali. Aktifitas enzim pankreas dan xantin oksidase berkurang.
m.    Defisiensi asam folat, protein, besi.
n.    Nilai enzim urea siklase dalam hati merendah, tetapi kadar enzim pembentuk asam amino meningkat.
c.    Pemeriksaan Radiologik
Pada pemeriksaan radiologik tulang memperlihatkan osteoporosis ringan
2.    Diagnosa keperawatan
a.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekutnya intake nutrisi
Perencanaan :
Anak akan memperlihatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi secara adekuat yang ditandai dengan berat badan normal sesuai dengan usia, nafsu makan meningkat dan tidak ditemukan manifestasi nutrisi.
Intervensi :
•    Kaji antropometri
•    Kaji pola makan
•    Berikan intake makanan tinggi kalori, tinggi protein, tinggi mineral dan tinggi vitamin
•    Prekuensi makan dapat ditinggkatkan setiap 3 – 4 jam dan selinggi dengan makanan kecil yang tinggi kalori dan protein
•    Timbang berat badan setiap hari
•    Tinggkat kan pemberian asi dengan pemasukan intake nutrisi yang nadekuat pada orang tua (ibu)
b.    Kurangnya volume cairan dan konstipasi berhubungan dengan kurangnya intake cairan
Perencanaan :
Anak tidak menimbulkan tanda – tanda dehidrasi yang ditandai dengan ubun – ubun tidak cekung, turgor kulit normal, membaran mukosa lembab, aou put urine sesuai berat jenis urine normal dan anak menunjukan kebiasaan buang air besar dengan konsisitensi lembek.
Intervensi :
•    Berikan cairan yang adekuat sesuai dengan kondisi
•    Berikan cairan peroral
•    Berikan cairan atau nutrisi perparentral; pantau kepatenan obat
•    Ukur intake dan aut put; 2 – 3 ml/kg/jam
•    Ukur berat jenis urine
•    Auk skultasi bising usus
•    Kaji tanda – tanda dehidrasi
•    Pantau adanya overload cairan.
c.    Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tidak adanya kandungan makanan yang cukup.
Perencanaan :
Anak menunjukan keutuhan integritas kulit yang ditandai dengan kulit tidak bersisik, tidak kering, dan elastissitas kulit normal.
Intervensi :
•    Kaji kebutuhan kulit setiap pergantian dinas
•    Berikan suplemen vitamin
•    Berikan alas matras yang lembut
•    Berikan krim kulit
•    Ganti segera pakaian yang lembab atau basah
•    Lakukan kebersihan kulit
•    Hindari penggunaan sabun yang dapat mengiritasi kulit
d.    Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan respon imun sekunder malnutrisi.
Perencanaan :
Anak akan terbebas dari infeksi yang ditandai dengan suhu tubuh normal dan leukosit dalam batas normal
Intervensi :
•    Kaji tanda – tanda infeksi ; ukur suhu tubuh setiap 4 jam
•    Gunakan standar pencegahan universal ; kebetsihan, mencui tangan yang benar bila akan kontak pada anak, menghindarai dari anak yang infeksi
•    Berikan imunisasi bagi anak yang belum imunisasi.
e.    Kurangnya pengeathuan berhubungan dengan tidak tahu memberikan intake nutrisi yang adekuat pada anak.
Perencanaan :
Orang tua memahami pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak
Intervvensi :
•    Ajarkan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
•    Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat
•    Jelaskan kondisi yang terkait dengan malnutrisi
•    Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi nutrisi yang adekuat untuk meningkatkan produksi ASI
•    Libatkan keluarga dalam perawatan anak untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3.    Evaluasi
a.    Masukan kalori, protein adekuat ditandai dengan peningkatan berat badan dan nafsu makan meningkat.
b.    Haluaran urine adekuat.
c.    Membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tidak menunjukkan adanya edema.
d.    Kulit halus, elastisitas baik, rasa gatal hilang.
e.    Suhu tubuh turun.
f.    Pertumbuhan tidak terhambat, tidak ada perubahan pigmen pada rambut atau kulit.
g.    Anak ceria, tidak apatis dan tidak cengeng.
4.    Perencanaan pemulangan
a.    Jelaskan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat dengan menggunakan gambar – gambar
b.    Jelaskan komplikasi yang dapat terjadi akibat malnutrisi
c.    Ajarkan dan jelaskan orang tua untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi kalori, protein, mineral dan vitamin
d.    Berikan penjelasan makanan formula yang perlu diberikan pada anak.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Makanan mengalami proses pencernaan agar dapat di serap oleh usus. Proses pencernaan adalah proses perubahan makanan dari bentuk kasar (kompleks) menjadi bentuk yang halus (sederhana) sehingga dapat diserap usus. Prosesv pencernaan pada manusia dibedakan menjadi pencernaan secara mekanik dan pencernaan secara kimiawi.Pencernaan secara mekanik yaitu mengubah makanan dari bentuk kasar menjadi halus.Sedangkan pencernaann secara kimiawi, yaitu pencernaan dengan bantuan enzim.
B.    Saran
kami mengharapkan kritikan dan saran dari pihak-pihak yang membaca makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini berguna bagi kita semua. Oleh karena itu kami meminta restu dari pembaca semoga sukses dalam berkarya.












DAFTAR PUSTAKA



A.H. Markum, 1991, Buku Ajar Kesehatan Anak, jilid I, Penerbit FKUI
Ngastiyah, 997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta
Price & Wilson 1995, Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Buku
1, Ed.4, EGC, Jakarta
Soetjiningsih 1998, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta
Soeparman & Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Ed. Ke-3, BP FKUI,
Jakarta.
Suharyono, 1986, Diare Akut, lembaga Penerbit Fakultas Kedokteran UI, Jakarta
Whaley & Wong, 1995, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition,
Clarinda company, USA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar